Pernah gak sih, di awal bulan rasanya baru gajian, eh belum sampai tanggal 20 saldo udah menipis padahal gak inget belanja apa aja? Kalau iya, kamu mungkin sedang mengalami dua fenomena yang lagi ramai dibahas Otoritas Jasa Keuangan (OJK): FOMO (Fear of Missing Out) dan doom spending. Dua-duanya jadi salah satu ancaman terbesar buat kesehatan keuangan generasi muda saat ini — bukan karena penghasilan kurang, tapi karena caranya belanja yang gak sadar diri.
Artikel ini akan bahas tuntas apa itu FOMO dan doom spending, kenapa keduanya bisa menguras dompet tanpa disadari, dan yang paling penting — cara praktis buat ngerem sebelum keuanganmu makin berantakan.
Apa Itu FOMO dalam Konteks Keuangan?
FOMO atau "takut ketinggalan" adalah dorongan psikologis untuk ikut-ikutan melakukan sesuatu karena takut dianggap ketinggalan zaman atau berbeda dari orang lain. Dalam konteks keuangan, FOMO muncul ketika kamu membeli sesuatu bukan karena butuh, tapi karena:
- Semua orang di media sosial lagi pakai/punya barang itu.
- Ada promo "terbatas" atau "flash sale" yang bikin panik takut kehabisan.
- Teman atau circle pertemanan lagi ramai membicarakan tren tertentu (staycation, gadget baru, skincare viral, dsb).
- Takut dianggap "gak update" kalau tidak ikut tren yang sedang viral.
FOMO ini yang sering jadi pemicu awal dari kebiasaan belanja impulsif — keputusan beli diambil dalam hitungan detik, tanpa mikir panjang soal kebutuhan atau dampaknya ke kondisi keuangan.
Apa Itu Doom Spending?
Kalau FOMO dipicu rasa takut ketinggalan tren, doom spending justru dipicu rasa cemas dan pesimis terhadap masa depan. Istilah ini menggambarkan kebiasaan belanja berlebihan sebagai bentuk "pelarian" dari stres, kecemasan ekonomi, atau perasaan bahwa masa depan terlalu tidak pasti untuk direncanakan — jadi mending dinikmati sekarang saja.
Pola pikirnya biasanya seperti ini: "Toh nabung juga gak akan cukup buat beli rumah, mending uangnya dipakai buat seneng-seneng sekarang." Padahal, justru pola pikir ini yang bikin kondisi keuangan makin sulit membaik, karena kebiasaan menabung dan berinvestasi jadi terus ditunda.
FOMO bikin kamu belanja karena takut ketinggalan. Doom spending bikin kamu belanja karena udah "menyerah" duluan sama masa depan. Dua-duanya sama-sama berbahaya buat dompet.
Ciri-Ciri Kamu Terjebak FOMO atau Doom Spending
- Sering checkout barang di e-commerce tanpa merencanakan sebelumnya, terutama saat lihat notifikasi diskon.
- Belanja jadi cara untuk "menghibur diri" setelah hari yang berat atau stres kerja.
- Merasa cemas atau ketinggalan kalau tidak ikut beli barang/pengalaman yang lagi viral.
- Uang habis di pertengahan bulan, tapi bingung sendiri barang belanjaan itu dipakai untuk apa.
- Sering bilang "yaudahlah, sekali-sekali" padahal frekuensinya terjadi hampir tiap minggu.
- Menunda menabung/investasi dengan alasan "toh masa depan gak pasti."
Kenapa Ini Berbahaya buat Keuanganmu?
Yang bikin FOMO dan doom spending berbahaya bukan cuma soal uang yang habis, tapi soal hilangnya kontrol dan perencanaan keuangan jangka panjang. Beberapa dampak nyatanya:
- Dana darurat gak pernah terbentuk — karena penghasilan selalu habis untuk kebutuhan "sekarang", bukan disisihkan untuk kondisi darurat.
- Terjebak utang konsumtif — mulai dari paylater, kartu kredit, sampai pinjaman online, karena gaji sendiri sudah tidak cukup menutupi gaya hidup.
- Rencana finansial jangka panjang tertunda terus — dana pensiun, DP rumah, atau modal usaha jadi angan-angan yang tak kunjung terealisasi.
- Stres finansial makin berat — ironisnya, doom spending yang tujuannya "menghibur diri dari kecemasan" justru bikin kecemasan finansial makin parah dalam jangka panjang.
Cara Mengerem FOMO dan Doom Spending
1. Terapkan Jeda 24 Jam Sebelum Membeli
Setiap kali tergoda beli sesuatu di luar rencana, coba tunda dulu minimal 24 jam. Kalau besok masih benar-benar ingin dan memang butuh, baru beli. Kebanyakan dorongan FOMO akan mereda dengan sendirinya setelah beberapa jam.
2. Batasi Waktu Scroll Media Sosial dan E-Commerce
Semakin sering lihat konten belanja atau gaya hidup orang lain, semakin besar pula dorongan FOMO muncul. Coba batasi waktu buka aplikasi belanja dan media sosial, terutama saat lagi ada event diskon besar.
3. Buat Anggaran dengan Metode yang Jelas
Pakai metode budgeting sederhana seperti alokasi 50% kebutuhan pokok, 30% keinginan, dan 20% tabungan/investasi. Dengan begitu, kamu tetap punya "jatah" untuk bersenang-senang tanpa mengorbankan tabungan dan kebutuhan pokok.
4. Alihkan Kecemasan ke Aksi Nyata, Bukan Belanja
Kalau doom spending muncul karena cemas soal masa depan, coba alihkan energinya untuk hal yang benar-benar membantu — misalnya mulai menabung meski nominal kecil, ikut pelatihan skill tambahan, atau konsultasi ke petugas bank soal produk simpanan yang sesuai kondisi keuanganmu. Rasa cemas memang gak akan hilang instan, tapi tindakan nyata biasanya lebih menenangkan daripada belanja sesaat.
5. Otomatiskan Tabungan Sebelum Uang "Sempat" Dibelanjakan
Salah satu cara paling efektif adalah menyisihkan tabungan di awal, bukan di akhir bulan. Kalau perlu, gunakan produk seperti tabungan berjangka dengan autodebet rutin, supaya dana tabungan sudah "aman" sebelum sempat tergoda belanja impulsif.
6. Cari Circle Pertemanan yang Sehat Secara Finansial
Lingkungan pertemanan sangat memengaruhi kebiasaan belanja. Kalau circle-mu terbiasa pamer gaya hidup konsumtif, akan lebih sulit menahan diri. Coba cari komunitas atau teman yang juga peduli soal literasi keuangan dan menabung.
Kapan Perlu Waspada Lebih Serius?
Kalau kebiasaan belanja impulsif sudah sampai membuatmu berutang di banyak tempat sekaligus (paylater, kartu kredit, pinjaman online), atau kamu merasa sulit sekali mengendalikan dorongan belanja meski sudah tahu dampaknya, ini saatnya mulai serius mengevaluasi kondisi keuangan secara menyeluruh — bila perlu, konsultasikan ke petugas bank atau perencana keuangan terpercaya untuk membantu menyusun ulang prioritas dan rencana pelunasan utang.
Kesimpulan
FOMO dan doom spending sama-sama berakar dari emosi — takut ketinggalan di satu sisi, dan cemas terhadap masa depan di sisi lain. Keduanya wajar dirasakan, tapi kalau dibiarkan mengendalikan keputusan finansial, dampaknya bisa panjang: dana darurat gak pernah terbentuk, utang menumpuk, dan rencana masa depan terus tertunda.
Kabar baiknya, kesadaran adalah langkah pertama. Begitu kamu bisa mengenali polanya, langkah-langkah kecil seperti jeda sebelum beli, budgeting yang jelas, dan menabung otomatis bisa jadi pengubah kebiasaan yang signifikan dalam jangka panjang.
Kalau kamu ingin mulai membentuk kebiasaan menabung yang lebih disiplin, tim BPR Sinergi Utama siap bantu carikan produk simpanan yang paling sesuai dengan kondisi dan tujuan keuanganmu.
